Rabu, 23 Desember 2009

Prinsip Dasar Peta dan Pemetaan

Prinsip Dasar Peta dan Pemetaan


A. Pengertian Peta

Pernahkah Anda melihat peta? Kalau sudah, apakah sebenarnya peta itu? Peta merupakan alat utama di dalam ilmu geografi, selain foto udara dan citra satelit. Melalui peta, seorang dapat mengamati kenampakan permukaan bumi lebih luas dari batas pandang manusia.

1. Menurut ICA (International Cartographic Association)

Peta adalah suatu gambaran atau representasi unsur-unsur ketampakan abstrak yan dipilih dari permukaan bumi, yang ada kaitannya dengan permukaan bumi atau benda-benda angkasa. Pada umumnya, peta digambarkan pada suatu bidang datar dan diperkecil atau diskalakan.

Kalau Anda bertanya kapan peta mulai ada dan digunakan manusia? Jawabannya adalah peta mulai ada dan digunakan manusia, sejak manusia melakukan penjelajahan dan penelitian. Walaupun masih dalam bentuk yang sangat sederhana yaitu dalam bentuk sketsa mengenai lokasi suatu tempat.

2. Pada awal abad ke 2 (87 M – 150 M), Claudius Ptolomaeus mengemukakan mengenai pentingnya peta. Kumpulan dari peta peta karya Claudius Ptolomaeus dibukukan dan diberi nama “Atlas Ptolomaeus”.

Ilmu yang membahas mengenai peta adalah kartografi. Sedangkan orang ahli membuat peta disebut kartografer.

B. Macam-macam Peta

1. Ditinjau dari jenisnya

Ditinjau dari jenisnya, peta dibedakan menjadi dua, yaitu peta foto dan peta garis. Peta foto ialah peta yang dihasilkan dari muzaik foto udara/ortofoto yang dilengkapi garis kontur, nama, dan legenda. Peta garis ialah peta yang menyajikan detail alam dan buatan manusia dalam bentuk titik, garis, dan luasan.

2. Ditinjau dari skalanya

Berdasarkan skalanya peta diklasifikasikan menjadi lima yaitu :

  • Peta kadaster berskala 1 : 100 s/d 1 : 5000
  • Peta skala besar berskala 1 : 5000 s/d 1 : 250.000
  • Peta skala sedang berskala 1 : 250.000 s/d 1 : 500.000
  • Peta skala kecil berskala 1 : 500.000 s/d 1 : 1.000.000
  • Peta skala geografi berskala lebih dari 1 : 1.000.000
  • Peta umum/PetaIkhtisar adalah peta yang menggambarkan segala Sesutu yang ada di permukaan bumi.
  • Peta Khusus/Peta Tematik adalah peta yang menggambarkan kenampakan-kenampakan tertentu di permukaan bumi.

3. Ditinjau dari informasinya

Contohnya : Peta kepadatan penduduk, Peta geologi, peta penggunaan lahan, dll.

C. Komponen-komponen/Kelengkapan Peta

Peta yang baik biasanya dilengkapi dengan komponen-komponen peta, agar peta mudah dibaca, ditafsirkan dan tidak membingungkan. Adapun komponenkomponen yang harus dipenuhi dalam suatu peta antara lain:

1. Judul peta

2. Skala peta

3. Legenda atau keterangan

4. Tanda arah atau orientasi

5. Simbol dan warna

6. Sumber dan tahun pembuatan peta

7. Proyeksi peta

Untuk lebih jelasnya mengenai arti dan manfaat dari komponen-komponen peta tersebut, silahkan Anda pelajari uraian berikut ini.

1. Judul Peta

Pada peta yang pernah Anda lihat, di bagian manakah biasanya judul peta diletakkan? Judul peta memuat isi peta. Dari judul peta Anda dapat segera mengetahui data daerah mana yang tergambar dalam peta tersebut.

Contoh:

- Peta Penyebaran Penduduk Pulau Jawa.

- Peta Tata Guna Tanah Propinsi Bali.

- Peta Indonesia.

Judul peta merupakan komponen yang sangat penting. Biasanya, sebelum

membaca memperhatikan isi peta, pasti terlebih dahulu judul yang dibacanya.

Judul peta hendaknya memuat/mencerminkan informasi yang sesuai dengan

isi peta. Selain itu, judul peta jangan sampai menimbulkan penafsiran ganda

pada peta.

Judul peta biasanya diletakkan di bagian tengah atas peta. Tetapi judul peta

dapat juga diletakkan di bagian lain dari peta, asalkan tidak mengganggu

kenampakkan dari keseluruhan peta.

2. Skala Peta

Skala adalah perbandingan jarak antara dua titik sembarang di peta dengan

jarak sebenarnya di permukaan bumi, dengan satuan ukuran yang sama.

Skala ini sangat erat kaitannya dengan data yang disajikan.

Bila ingin menyajikan data yang rinci, maka digunakan skala besar, misalnya

1 : 5000. Sebaliknya, apabila ingin ditunjukkan hubungan kenampakan secara

keseluruhan, digunakan skala kecil, misalnya skala 1 : 1000.000.

Contoh:

skala 1 : 500.000 artinya 1 bagian di peta sama dengan 500.000 jarak yang

sebenarnya, apabila dipakai satuan cm maka artinya 1 cm jarak di peta sama

dengan 500.000 cm (5 km) jarak sebenarnya di permukaan bumi. Skala peta

akan dibahas lebih rinci pada modul berikutnya nanti.

3. Legenda atau keterangan

Legenda pada peta menerangkan arti dari simbol-simbol yang terdapat pada

peta. Legenda itu harus dipahami oleh si pembaca peta, agar tujuan

pembuatan peta itu mencapai sasaran. Legenda biasanya diletakkan di pojok

kiri bawah peta. Selain itu legenda peta dapat juga diletakkan pada bagian

lain peta, sepanjang tidak mengganggu kenampakan peta secara

keseluruhan.

Lihat gambar 1.1.

+ + + + + + + : batas negara

+ • + • + • + • : batas provinsi

– • – • – • – • : batas kabupaten

: jalan kereta api.

: jalan raya/sungai

: gunung/gunung api

: Ibu kota propinsi

: Ibu kota kabupaten

: Kota lainnya

: danau

: rawa

: bandar udara

: pelabuhan

Gambar 1.1. Contoh legenda/ keterangan pada peta.

4. Tanda Arah atau Tanda Orientasi

Tanda arah atau tanda orientasi penting artinya pada suatu peta. Gunanya

untuk menunjukkan arah utara, Selatan, Timur dan Barat. Tanda orientasi

perlu dicantumkan pada peta untuk menghindari kekeliruan. Tanda arah pada

peta biasanya berbentuk tanda panah yang menunjuk ke arah Utara. Petunjuk

ini diletakkan di bagian mana saja dari peta, asalkan tidak mengganggu

kenampakan peta.

Lihat gambar 1.2.

Gambar 1.2. Contoh beberapa tanda orientasi atau petunjuk arah pada peta yang lazim digunakan.

5. Simbol dan Warna

Agar pembuatan peta dapat dilakukan dengan baik, ada dua hal yang perlu

mendapat perhatian, yaitu simbol dan warna.

Uraian berikut ini akan menjelaskan satu demi satu mengenai pengertian simbol

dan warna tersebut

a. Simbol Peta

Pada peta, Anda juga akan melihat simbol-simbol, gunanya agar informasi

yang disampaikan tidak membingungkan. Simbol-simbol dalam peta harus

memenuhi syarat, sehingga dapat menginformasikan hal-hal yang

digambarkan dengan tepat.

Syarat-syarat tersebut adalah:

- sederhana

- mudah dimengerti

- bersifat umum

b. Macam-macam simbol peta:

1) Macam-macam simbol peta berdasarkan bentuknya

Bentuk-bentuk simbol yang digunakan pada peta berbeda-beda tergantung dari jenis petanya.

a) Simbol titik, digunakan untuk menyajikan tempat atau data posisional, seperti simbol kota, pertambangan, titik trianggulasi (titik ketinggian) tempat dari permukaan laut dan sebagainya.

b) Simbol garis, digunakan untuk menyajikan data geografis misalnya sungai, batas wilayah, jalan, dan sebagainya.

c) Simbol luasan (Area), digunakan untuk menunjukkan kenampakan area misalnya rawa, hutan, padang pasir dan sebagainya.

d) Simbol aliran, digunakan untuk menyatakan alur dan gerak

e) Simbol batang, digunakan untuk menyatakan harga/dibandingkan harga lainnya/nilai lainnya.

f) Simbol lingkaran, digunakan untuk menyatakan kuantitas (jumlah)dalam bentuk persentase.

g) Simbol bola, digunakan untuk menyatakan isi (volume), makin besarsimbol bola menunjukkan isi (volume) makin besar dan sebaliknyamakin kecil bola berarti isi (volume) makin kecil.

2) Macam-macam simbol peta berdasarkan sifatnya

Simbol-simbol yang Anda lihat pada peta, ada yang menyatakan jumlah dan ada yang hanya membedakan. Berdasarkan sifatnya, simbol peta dibedakan menjadi dua macam yaitu:

a) Simbol yang bersifat kualitatif

Simbol ini digunakan untuk membedakan persebaran benda yang digambarkan. Misalnya untuk menggambarkan daerah penyebaran hutan, jenis tanah, penduduk dan lainnya.

b) Simbol yang bersifat kuantitatif

Simbol ini digunakan untuk membedakan atau menyatakan jumlah.

3) Macam macam simbol berdasarkan fungsinya

Penggunaan simbol pada peta tergantung fungsinya. Untuk menggambarkan bentuk-bentuk muka bumi di daratan, di perairan, atau bentuk-bentuk budaya manusia.

Berdasarkan fungsinya simbol peta dapat dibedakan menjadi:

a) Simbol daratan, digunakan untuk simbol-simbol permukaan bumi di daratan.

Contoh: gunung, pegunungan, gunung api.

b) Simbol perairan, digunakan untuk simbol-simbol bentuk perairan.

c) Simbol budaya, digunakan untuk simbol simbol, bentuk hasil budaya.

c. Warna

Perhatikan peta yang ada di sekolah Anda, warna apa saja yang ada pada peta tersebut? Peta yang berwarna akan lebih indah dilihat dan kenampakan yang ingin disajikan juga kelihatan lebih jelas. Tidak ada peraturan yang baku mengenai penggunaan warna dalam peta. Jadi penggunaan warna adalah bebas, sesuai dengan maksud atau tujuan si pembuat peta, dan kebiasaan umum.

Contohnya:

1) Untuk laut, danau digunakan warna biru.

2) Untuk temperatur (suhu) digunakan warna merah atau coklat.

3) Untuk curah hujan digunakan warna biru atau hijau.

4) Daerah pegunungan tinggi/dataran tinggi (2000 – 3000 meter) digunakan warna coklat tua.

5) Untuk dataran rendah (pantai) ketinggian 0 sampai 200 meter daripermukaan laut digunakan warna hijau.

Dilihat dari sifatnya, warna pada peta dapat dibedakan menjadi dua macam,

yaitu: Yang bersifat kualitatif dan yang bersifat kuantitatif. Yang bersifat kualitatif hanya membedakan unsurnya saja. Sedangkan yang bersifat kuantitatif terutama dimaksudkan untuk menunjukkan jumlah atau nilai gradasinya, meskipun juga untuk membedakan unsurnya.

6. Sumber dan Tahun Pembuatan Peta

Bila Anda membaca peta, perhatikan sumbernya. Sumber memberi kepastian kepada pembaca peta, bahwa data dan informasi yang disajikan dalam peta tersebut benar benar absah (dipercaya/akurat), dan bukan data fiktif atau hasil rekaan. Hal ini akan menentukan sejauh mana si pembaca peta dapat mempercayai data/informasi tersebut. Selain sumber, perhatikan juga tahun pembuatannya. Pembaca peta dapat mengetahui bahwa peta itu masih cocok atau tidak untuk digunakan pada masa sekarang atau sudah kadaluarsa karena sudah terlalu lama.

7. Inset peta

Inset peta menunjukan lokasi daerah yang dipetakan terhadap daerah di sekitarnya yang lebih luas. Kegunaan inset adalah untuk menjelaskan salah satu bagian dari peta dan untuk menjukan lokasi yang penting tetapi kurang jelas dalam peta.

8. Proyeksi peta

Proyeksi peta adalah cara pemindahan system parallel/garis lintang dan meridian/garis bujur dan globe/bidang lengkung kebidang datar/peta.

9. Garis tepi

Garis tepi biasanya dibuat rangkap, yang berfungsi membatasi peta dengan komponen-komponennya di dalam bingkai (garis tepi peta) serta membantu daerah yang dipetakan tepat pada posisi di tengah-tengah.

10. Lettering

Lettering adalah semua tulisan atau huruf-huruf yang tertera di dalam peta, yang berfungsi untuk mempertegas arti dari symbol-simbol yang ada pada peta, yang biasanya ditulis dengan tipe huruf tertentu.

D. Cara Membuat dan Membaca Peta

a. Membuat Peta

Dalam pembuatan peta, ada beberapa prinsip pokok yang harus diperhatikan. Yang dimaksud pembuatan peta dalam modul ini bukan dalam pengertian pemetaan wilayah.

Langkah-langkah prinsip pokok dalam pembuatan peta adalah:

  1. menentukan daerah yang akan Anda petakan,
  2. membuat peta dasar (base map) yaitu peta yang belum diberi simbol,
  3. mencari dan mengklarifikasikan (menggolongkan) data sesuai dengan kebutuhan,
  4. membuat simbol-simbol yang mewakili data,
  5. menempatkan simbol pada peta dasar,
  6. membuat legenda (keterangan), dan
  7. melengkapi peta dengan tulisan (lettering) secara baik dan benar.

b. Tata Cara Penulisan pada Peta

Untuk membuat tulisan (lettering) pada peta ada kesepakatan di antara

para ahli (kartografer) yaitu sebagai berikut:

  1. Nama geografis ditulis dengan bahasa dan istilah yang digunakan penduduk setempat.

Gambar 1.8.

Contoh penulisan sungai.

Contoh: Sungai ditulis Ci (Jawa Barat), Kreung (Aceh), Air (Sumatera Utara). Nama sungai ditulis searah dengan aliran sungai dan menggunakan huruf miring.

1. Nama jalan di tulis harus searah dengan aras jalan tersebut, dan ditulis dengan huruf cetak kecil.

Gambar 1.19. Gambar 1.20.

Contoh penulisan jalan. Contoh penulisan nama kota.

2. Nama kota ditulis dengan 4 cara yaitu:

  1. di bawah simbol kota
  2. di atas simbol kota
  3. di sebelah kanan simbol kota
  4. di sebelah kiri simbol kota

C. Memperbesar dan memperkecil Peta

Setelah Anda memahami langkah-langkah dalam membuat peta, macammacam simbol peta dan penggunaannya, sekarang kita pelajari bagaimana cara memperbesar dan memperkecil peta.

a. Memperbesar Peta

Untuk memperbesar peta yang bisa Anda lakukan yaitu;

1) Memperbesar grid (sistem kotak-kotak)

Langkah-langkah yang harus Anda lakukan adalah:

a) Buat grid pada peta yang akan diperbesar.

b) Buat grid yang lebih besar pada kertas yang akan digunakan untuk menggambar peta baru, pembesarannya sesuai dengan rencana pembesaran.

c) Memindahkan garis peta sesuai dengan peta dasar ke peta baru.

d) Mengubah skala, sesuai dengan rencana pembesaran.

Contoh:

Peta berskala 1 : 100.000 akan diperbesar 2 kali, maka skala

menjadi 1 : 50.000. (Lihat gambar 1.21)

Gambar 1.21. Cara memperbesar peta dengan memperbesar grid.

2) Fotocopy

Cara lain memperbesar peta adalah dengan cara fotocopy peta tersebut. Bila Anda ingin memperbesar peta gunakanlah mesin fotocopy yang dapat memperbesar peta. Dengan fotocopy, untuk peta yang menggunakan skala garis atau skala tongkat tidak ada masalah, karena panjang garis atau tongkat mengikuti perubahan. Peta dengan skala angka harus diubah dulu skalanya menjadi skala garis sebelum di fotocopy.

Contoh: Mengubah skala angka ke skala garis

Skala 1 : 100.000 menjadi

Artinya, jarak 10 cm di peta mewakili jarak 5 km di lapangan.

3) Menggunakan alat pantograf

Selain dengan memperbesar grid dan memfotocopy untuk memperbesar peta Anda dapat menggunakan alat pantograf. Pantograf adalah alat untuk memperbesar dan memperkecil peta.

b. Memperkecil Peta

Bila Anda ingin memperkecil peta, caranya sama dengan memperbesar peta yaitu:

1) memperkecil peta

2) memfotocopy peta dengan mesin fotocopy yang dapat memperkecil peta

3) menggunakan pantograf

Di bawah ini disajikan gambar sketsa dari pantograph

Sketsa alat pantograf. Pantograf dapat dipakai untuk memperbesar atau memperkecil skala peta. Dengan menggunakan alat ini kita dapat mengubah ukuran peta sesuai dengan ukuran yang diinginkan. Pada dasarnya, kerja pantograh berdasarkan jajaran genjang. Tiga dari empat sisi jajaranb genjang (a, b dan c) mempunyai skala faktor yang sama. Skala pada ketiga sisi tersebut dapat diubah-ubah sesuai dengan kebutuhan, yaitu memperbesar atau memperkecil peta.

Rumus yang digunakan:

Contoh: Suatu peta akan diperbesar 5 kali lipat.

Diketahui :

m = 1 (besar peta yang asli)

M = 5 (besar peta yang akan dibuat)

Maka skala faktor =

Setelah didapat besarnya skala faktor, lalu pantograf diatur sedemikian rupa sehingga masing-masing lengan pantograf mempunyai skala factor sama dengan 100.

Caranya:

Peta yang akan diperbesar letakkan ditempat B dan kertas gambar kosong letakkan di tempat gambar A yang sudah dilengkapi pensil. Kemudian (dijiplak) gerakkan B mengikuti peta asal, melalui kaca pengamat.

c. Membaca Peta

Dalam membaca peta, Anda harus memahami dengan baik semua simbol atau informasi yang ada pada peta. Kalau Anda dapat membaca peta dengan baik dan benar, maka Anda akan memiliki gambaran mengenai keadaan wilayah yang ada dalam peta, walaupun belum pernah melihat atau mengenal medan (muka bumi) yang bersangkutan secara langsung.

Ada beberapa hal perlu ketahui dalam membaca peta antara lain:

  1. Isi peta dan tempat yang digambarkan, melalui judul.
  2. Lokasi daerah, melalui letak garis lintang dan garis bujur.
  3. Arah, melalui petunjuk arah (orientasi).
  4. Jarak atau luas suatu tempat di lapangan, melalui skala peta.
  5. Ketinggian tempat, melalui titik trianggulasi (ketinggian) atau melalui garis kontur.
  6. Kemiringan lereng, melalui garis kontur dan jarak antara garis kontur yang berdekatan.
  7. Sumber daya alam, melalui keterangan (legenda).
  8. Kenampakkan alam, misalnya relief, pegunungan/gunung, lembah/sungai, jaringan lalu lintas, persebaran kota. Kenampakan alam ini dapat diketahui melalui simbol-simbol peta dan keterangan peta.

Selanjutnya kita dapat menafsirkan peta yang kita baca, antara lain sebagai berikut:

  1. Peta yang banyak gunung/pegunungan dan lembah/sungai, menunjukkan bahwa daerah itu berelief kasar.
  2. Alur-alur yang lurus, menunjukkan bahwa daerah itu tinggi dan miring, jika alur sungai berbelok-belok (berbentuk meander), menunjukkan daerah itu relatif datar.
  3. Pola (bentuk) pemukiman penduduk yang memusat dan melingkar, menunjukkan daerah itu kering (sulit air) tetapi di tempat-tempat tertentu terdapat sumber-sumber air.

Dengan membaca peta Anda akan dapat mengetahui:

  1. Jarak lurus antar kota.
  2. Keadaan alam suatu wilayah, misalnya suatu daerah sulit dilalui kendaraan karena daerahnya berawa-rawa.
  3. Keadaan topografi (relief) suatu wilayah.
  4. Keadaan penduduk suatu wilayah, misalnya kepadatan dan persebarannya.

Keadaan sosial budaya penduduk, misalnya mata pencaharian, persebaran sarana kota dan persebaran permukiman.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar